RATIH
Jalanku tercekat. Aku melihat seorang gadis yang duduk dipinggiran rel kereta api. Tampangnya, bagiku, tidak cocok untuk berada ditempat seperti ini. Wajahnya lembut, rambutnya indah dan bajunya sangat bagus. Kuperkirakan umurnya hampir sama denganku. Kumasukkan kantong plastik berisi emas kedalam kantong celanaku dan menghampirinya.
“Hai, mengapa kau ada disini sendirian?” kataku.
“Aku hanya ingin melihat matahari terbenam. Apakah kau tinggal disekitar sini?” katanya.
“Iya, aku tinggal digubuk yang paling ujung, disana.” Aku tahu bahwa tempatku ini sangat indah dan akupun mengagumi mahakarya Sang Agung.
“Aku Ratih, kamu siapa?” kataku. Tiba-tiba raut mukanya berubah, dahinya berkerut dan dia terlihat sedikit terkejut. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
“Namaku..,” jawabnya ragu,”Namaku Ratih.” Simpulnya sedikit tersenyum, tetap merasa aneh. Aku tak tahu harus bilang apa, namanya sama dengan namaku. Aku tertawa, memang namaku bisa dibilang pasaran.
“Aku 16 tahun, kamu berapa? Kamu tinggal dimana? Mengapa ada disini?” tanyaku bertubi-tubi. Aku penasaran dengannya. Mungkinkah dia mau berteman denganku.
“Aku juga 16 tahun,” pekiknya penuh semangat,”Aku tinggal diperumahan itu,” tunjuknya.
“Aku baru pindah ke daerah ini, dan aku hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu senggangku.”
Dia orang kaya, pikirku. Dan dia orang baru. Aku keluarkan kantong emasku, menghitung penghasilanku hari ini. Lumayan, tidak terlalu sedikit. Tapi tidak cukup untuk melunasi hutangku yang teramat banyak. Aku mengintip dari ujung mataku, ia melihatku dengan seksama dan tersenyum. Aku menoleh dan melemparkan senyumanku padanya.
Ia beranjak pergi. Hari mulai gelap. Dia melambaikan tangannya kepadaku dan aku membalas lambaiannya. Aku senang hari ini, nyanyianku laku sehingga aku bisa makan enak dan menabung sisanya untuk hutang-hutangku disekolah. Malam itu ibu dan aku tidur dengan tenang.
Matahari di jendelaku terasa sangat perih. Kulitku terasa seperti ditusuk-tusuk. Seperti biasa aku pergi ke sekolah. Tidak ada yang istimewa hari itu. Hanya aku berdiam diri di dalam perpustakaan yang tua dan singgah di persimpangan untuk mencari emas. Hanya aku yang dapat diandalkan untuk mencari nafkah. Tapi aku bahagia menjalani hidupku sebagai pencari nafkah, dan aku bangga. Semua kulakukan untuk membahagiakan ibuku tersayang.
Aku melihat Ratih diujung jalan, gayanya memang aneh. Aku mengamatinya berputar-putar di dekat jendela toko. Senyumnya lebar, tapi aku melihat kesedihan dimatanya. Lamunanku buyar olehnya. Matanya berkaca melihat diriku. Menyentuh tanganku.
“Pulanglah, Ratih, aku yakin ibumu membutuhkanmu.” Katanya, aku tak mengerti apa maksud perkataannya. Aku memikirkan perkataannya, dan entah bagaimana ia menghilang. Aku berlari kerumah, jantungku terasa sakit, hatiku terasa perih sekali. Dan betapa takutnya aku ketika aku mendapati ibuku terbaring lemah diatas tempat tidur, menahan perih yang aku rasa tak terkira itu. Pikiranku galau, aku tak tahu harus berbuat apa, air mataku tumpah, lidahku kelu dengan mulut kaku.
“Ratih, jadilah anak yang baik, ibu yakin kau akan menjadi orang sukses nantinya. Kau anak yang baik, sayang. Ratih harus yakin bahwa ibu akan selalu menyayangi Ratih walaupun ibu sudah tidak bisa lagi berada disamping Ratih.” Hatiku renyuh dan tak bisa kulukiskan rasanya. Takut kehilangan wanita yang telah bersedia menjadi ibuku, melihatnya kesakitan memerangi rasa yang tak akan pernah dibayangkan manusia sebelumnya. Kalimat terakhirnya adalah bukti bahwa ibuku orang yang mencintai Yang Maha Kuasa. Aku terpekik tanpa suara ketika aku merasakan wanita itu tidak lagi bernapas, ketika aku sadar bahwa ia telah lepas dari kesakitan yang menderanya.
Aku hendak berteriak tapi aku tak sanggup. Mulutku terbuka lebar tanpa sedikit suarapun yang keluar, jalanku tak lagi lurus, berlari tanpa tahu arah. Berlari mencari bantuan. Aku tak sanggup lagi untuk kembali. Rumahku penuh sesak oleh manusia. Mereka menyalamiku.
Ratih mendatangiku dan menemaniku untuk beberapa hari. Hatiku masih teramat kacau.
“Semua orang akan pergi, kau akan pergi, aku akan pergi. Sebenarnya aku selalu bersedih, sama seperti kamu yang sedang kehilangan ibumu. Hidupku tidaklah utuh. Setiap orang yang berada didekatku lambat laun akan pergi meninggalkan aku sendirian. Kita sama, menurutku. Tapi sebenarnya hidupku tidak seperti hidupmu yang dinamis dan terisi. Hidupku terlalu sepi untuk anak 16 tahun sepertiku.” kata Ratih kepadaku.
Aku tidak mengerti apa arti dari perkataannya. Kesedihan yang dalam bagiku amat menyakitkan. Tapi hidup harus terus berlanjut. Ratih menemaniku untuk beberapa bulan, kemudian ia menghilang dari hidupku. Hidupku terasa semakin hampa. Bertahun-tahun aku menjalani hidupku dengan suka dan duka. Kini aku bukan seorang perempuan yang menyusuri jalanan kota untuk mencari emas dari suara yang kukeluarkan. Kini aku seorang wanita yang matang dan dewasa, pemikiranku lebih dewasa daripada umurku karena kehidupanku cukup rumit untuk dijalani.
Aku bekerja sebagai penyanyi di café-café. Suaraku yang tak seberapa mendampingiku untuk tetap hidup. Aku tidak pernah melihat Ratih semenjak kepergian ibu angkatku. Entah mengapa aku selalu memikirkan Ratih. Aku selalu mengingat dirinya.
Suatu sore aku berjalan melewati perbatasan, kembali ke tempat aku dibesarkan oleh ibu. Aku rindu melihat pemandangan indah matahari senja di penggiran rel kereta api itu. Aku merasa teramat tenang apabila berada disana. Sepintas aku melihat seorang gadis yang sedang duduk di pinggiran rel. Ia tampak tak asing bagiku. Betapa terkejutnya aku ketika aku menyadari bahwa ia adalah Ratih. Tapi rupanya tidak menua seperti aku. Dia masih terlihat sama seperti pertama kali aku melihatnya.
Keanehan yang luar biasa bergejolak dalam hatiku. Pertanyaan datang bertubi-tubi. Siapakah Ratih itu sebenarnya? Mengapa ia tak menua? Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan itu berputar dalam kepalaku. Ratih mendekat padaku. Kakiku refleks menarik kebelakang menjauh darinya.
“Jangan takut, Ratih. Aku tahu aku aneh. Aku memang tidak akan pernah bisa mati seperti manusia layaknya. Umurku, tebaklah!” katanya kepadaku,” Aku sekarang ini sudah beribu-ribu abad, entahlah, akupun lupa. Aku memang tidak pernah tua.” katanya seraya tersenyum. Bagiku dia amat menyeramkan.
“Siapa kau?” tanyaku gemetar.
“Aku Ratih. Tapi sebenarnya aku tidak punya nama. Kau tahu mengapa aku tetap hidup sampai sekarang? Aku makhluk berperan penting dalam siklus kehidupan manusia. Sebenarnya, aku tidak pernah melihat orang hidup terlalu lama, karena aku selalu datang untuk mengakhiri. Tugasku hanya satu. Dan aku tidak pernah mengingkari tugasku. Walaupun terkadang orang yang aku jemput itu ikhlas, orang yang ditinggalkannya selalu bersedih. Itulah yang aku tidak mengerti.”
Dia jelas tidak memiliki perasaan batinku. Aku masih tak mengerti mengenai dirinya.
“Seharusnya aku mengajakmu beberapa tahun yang lalu ketika kau sedang berputus asa. Tapi entah mengapa, Dia merasa belum saatnya aku menjemputmu. Jadi kubiarkan saja kau dicoret dari daftarku.” kata-kata itu mengakhiri keterangannya.
“Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tiba-tiba merasa tenang berada disini. Jujurlah Ratih, apakah semua itu sakit?” tanyaku.
“Sedikit. Tapi sebenarnya aku tak tahu apa yang kalian rasakan. Aku tidak sama.” terangnya.
“Aku..” terdiam. Sakit memang. Aku tidak akan pernah bisa menggambarkan bagaimana rasa sakit itu. Bagiku, semua itu barulah awal dari kehidupan yang dijanjikan Sang Agung kepadaku.
hows it?? kinda creepy right?
but thats my idea,
greet with peace,
likagendut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar